HARIANAKSARA.NET, JAKARTA – Perayaan Nasional Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang digelar di Ballroom Grand Sahid Jaya, Minggu (22/2), berlangsung khidmat, semarak, dan sarat pesan kebangsaan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATKIN) ini mengangkat tema besar: “Bila Ada Keadilan, Tiada Persoalan Kemiskinan” (Gai Jun Wu Pin).

Tema tersebut menjadi refleksi mendalam ajaran Khonghucu yang menempatkan keadilan sebagai fondasi utama terciptanya kesejahteraan dan harmoni sosial. Di tengah dinamika ekonomi dan sosial global, pesan ini terasa relevan dan kontekstual bagi bangsa Indonesia.

Acara diawali dengan narasi Imlek yang disampaikan Ketua Panitia, Hendri Ayung Tjoe. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa Imlek bukan sekadar perayaan budaya tahunan, melainkan momentum spiritual untuk memperbarui tekad dalam menegakkan nilai kebajikan. Ia menegaskan bahwa makna “Gai Jun Wu Pin” mengajarkan bahwa kemiskinan tidak akan menjadi persoalan besar apabila keadilan ditegakkan secara konsisten, baik dalam kepemimpinan, kebijakan publik, maupun kehidupan sosial sehari-hari.

“Imlek mengajarkan kita untuk kembali pada nilai dasar: kejujuran, tanggung jawab, dan keberpihakan pada keadilan. Jika setiap elemen bangsa memegang prinsip ini, maka kesejahteraan akan tumbuh dengan sendirinya,” ujarnya.

Sambutan kemudian disampaikan oleh Ketua Umum MATKIN, Budi Santoso Tanuwibowo. Ia menekankan bahwa ajaran Khonghucu selaras dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam Pancasila dan konstitusi. Menurutnya, keadilan bukan hanya konsep hukum, melainkan sikap moral yang harus tercermin dalam tindakan nyata para pemimpin dan warga negara.

Ia juga mengajak umat Khonghucu untuk terus berkontribusi aktif dalam pembangunan nasional, menjaga kerukunan antarumat beragama, serta memperkuat semangat gotong royong. “Keadilan adalah akar harmoni. Tanpa keadilan, kesejahteraan sulit dicapai. Dengan keadilan, persoalan kemiskinan dapat diatasi secara bersama,” tegasnya.

Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, dalam sambutannya menyoroti pentingnya menjadikan nilai keadilan sosial sebagai pedoman dalam penyusunan kebijakan negara. Ia menegaskan bahwa konstitusi Indonesia telah dengan tegas mengamanatkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan hal tersebut harus diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat kecil.

Ia juga menekankan bahwa keberagaman Indonesia adalah kekuatan yang harus dirawat dengan sikap saling menghormati. Menurutnya, perayaan Imlek tingkat nasional ini menjadi bukti bahwa Indonesia adalah rumah bersama bagi seluruh anak bangsa tanpa memandang latar belakang suku, agama, dan budaya.

Sambutan Presiden Republik Indonesia disampaikan oleh Menteri Agama RI, Nazaruddin Umar, yang hadir mewakili Presiden. Dalam pidato yang dibacakannya, Presiden menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili kepada seluruh umat Khonghucu di Indonesia.

Pesan tersebut menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga kerukunan antarumat beragama serta memperkuat moderasi beragama sebagai fondasi persatuan nasional. Presiden juga menekankan bahwa pembangunan nasional tidak hanya bertujuan pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pemerataan kesejahteraan dan penegakan keadilan sosial.

Menteri Agama Nazaruddin Umar menambahkan bahwa nilai-nilai universal seperti kejujuran, kebajikan, dan tanggung jawab moral adalah fondasi yang harus terus dijaga dalam kehidupan berbangsa. Ia mengapresiasi kontribusi umat Khonghucu yang selama ini aktif dalam menjaga harmoni dan toleransi di Indonesia.

Sebagai penutup rangkaian utama, suasana berubah menjadi penuh semangat dan kekaguman saat panggung menampilkan persembahan seni budaya. Tarian tradisional Imlek membuka segmen hiburan dengan gerakan yang anggun dan simbolik, merepresentasikan doa untuk keberuntungan, kesehatan, dan kemakmuran di tahun yang baru.

Penampilan lagu-lagu bertema persaudaraan dan kebangsaan turut menghidupkan suasana. Harmoni musik dan vokal yang menggema di Ballroom Grand Sahid Jaya menciptakan rasa kebersamaan yang mendalam di antara para tamu undangan.

Puncaknya, tarian drama kolosal ditampilkan dengan tata panggung megah dan koreografi dinamis. Pertunjukan tersebut menggambarkan perjalanan simbolik manusia dalam menghadapi tantangan kehidupan, mencari keadilan, dan menemukan harmoni melalui kebajikan. Permainan cahaya, kostum tradisional yang memukau, serta alur cerita yang kuat membuat para hadirin terpukau dan memberikan tepuk tangan panjang sebagai bentuk apresiasi.

Perayaan Nasional Imlek 2577 Kongzili ini bukan sekadar seremoni budaya, melainkan momentum refleksi kolektif bangsa tentang pentingnya keadilan, persatuan, dan kebajikan. Dari Ballroom Grand Sahid Jaya, pesan kuat tentang harmoni dan kesejahteraan menggema, meneguhkan optimisme bahwa Indonesia yang adil dan makmur dapat terwujud melalui komitmen bersama seluruh elemen bangsa.

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *