HARIANAKSARA.NET, JAKARTA – Pertanyaan tentang masa depan finansial sering kali muncul ketika seseorang mulai memasuki usia yang tidak lagi muda. Banyak orang merasa kesempatan untuk memperbaiki kondisi ekonomi sudah tertutup ketika usia melewati 50 tahun. Namun pandangan tersebut sesungguhnya tidak selalu benar.

Hal itu disampaikan oleh praktisi pengembangan diri Firman Pratama yang membagikan refleksi dan pandangannya mengenai kondisi finansial seseorang di usia 55 tahun. Menurutnya, usia bukanlah faktor penentu utama seseorang mampu memperbaiki kehidupan ekonominya atau tidak.

Pagi hari setelah mengantar kedua putrinya berangkat sekolah, Firman menerima sebuah pesan dari seseorang yang bertanya dengan nada ragu.

“Mas Firman, saya sudah 55 tahun. Apakah masih ada kesempatan memperbaiki kondisi keuangan hidup saya?” tulis penanya tersebut.

Pertanyaan itu menurut Firman adalah pertanyaan yang sangat manusiawi. Banyak orang mulai merasa cemas ketika menyadari bahwa usia produktif mereka secara fisik tidak lagi panjang.

Firman pun menjawab dengan tegas bahwa kesempatan itu masih selalu ada, selama seseorang masih memiliki kemauan untuk berpikir dan belajar.

Menurutnya, secara logika sederhana sebagian besar manusia hanya mampu bekerja dengan kekuatan fisik penuh hingga sekitar usia 55 atau 56 tahun. Setelah melewati fase tersebut, tenaga biasanya mulai berkurang sehingga jenis pekerjaan yang dilakukan juga akan berubah.

“Kalaupun masih bekerja setelah itu, biasanya pekerjaan yang tidak terlalu mengandalkan kekuatan fisik. Dan rata-rata orang masih bekerja hingga sekitar usia 60 tahun,” jelasnya.

Dari sudut pandang tersebut, terdapat satu realitas yang jarang dipikirkan banyak orang. Jika seseorang hidup hingga usia 80 tahun, maka ada kemungkinan ia harus menjalani sekitar 20 tahun kehidupan tanpa pekerjaan aktif yang menghasilkan penghasilan tetap.

Kondisi inilah yang sering kali menjadi sumber kecemasan finansial di usia lanjut.

Sementara itu, biaya hidup tidak pernah berhenti berjalan. Kebutuhan makan tetap ada setiap hari. Biaya kesehatan biasanya justru meningkat seiring bertambahnya usia. Belum lagi harga kebutuhan hidup yang terus naik dari tahun ke tahun.

Dalam situasi ideal, seseorang mungkin sudah memiliki simpanan dalam jumlah besar sehingga bisa menjalani masa tua dengan lebih tenang. Misalnya tabungan atau aset bernilai miliaran rupiah yang cukup menopang kehidupan selama puluhan tahun.

Namun kenyataannya, tidak semua orang berada dalam kondisi tersebut. Banyak orang baru mulai memikirkan masa depan finansialnya ketika usia sudah memasuki masa senja.

Padahal menurut Firman, masa depan finansial sebenarnya tidak dimulai dari uang.

Ia justru dimulai dari cara seseorang memandang dirinya sendiri dan cara ia memandang kehidupannya.

“Pilihan aktivitas yang bisa menghasilkan uang sebenarnya sangat banyak. Peluang selalu ada. Yang sering menjadi penghalang justru bukan peluangnya,” ungkapnya.

Firman menilai hambatan terbesar sering kali berasal dari pola pikir yang sudah terlalu lama terbiasa dengan rasa takut. Takut mengalami kerugian, takut mencoba hal baru, atau takut memulai sesuatu di usia yang dianggap tidak lagi muda.

Ketakutan tersebut tanpa disadari membuat seseorang berhenti mencari kemungkinan baru dalam hidupnya.

Padahal usia, menurutnya, bukanlah penghalang terbesar.

“Penghalang yang sebenarnya adalah pola pikir yang tidak pernah diperbarui,” ujarnya.

Dalam pengalamannya, Firman sering melihat dua tipe manusia yang sangat kontras. Ada orang yang masih berusia muda tetapi pikirannya sudah menyerah lebih dulu terhadap hidup. Mereka merasa tidak memiliki peluang untuk berkembang sehingga tidak lagi berusaha.

Namun di sisi lain, ada pula orang yang sudah berusia di atas 50 tahun tetapi justru memiliki keberanian untuk mengambil keputusan baru dalam hidupnya. Mereka masih berani belajar, mencoba peluang, dan mengubah arah kehidupan.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan utama manusia bukan berada pada usia biologisnya, tetapi pada cara berpikirnya.

Firman juga menyinggung peran metode pengembangan diri seperti Alpha Mind Control (AMC), yang menurutnya dapat membantu seseorang memahami kembali pola pikir yang selama ini mengarahkan keputusan hidupnya.

Banyak orang sebenarnya tidak kekurangan peluang. Mereka hanya menjalani kehidupan dengan “program pikiran lama” yang tanpa disadari membatasi langkah mereka sendiri.

Ketika cara berpikir seseorang berubah, keputusan yang diambil juga ikut berubah. Dan ketika keputusan berubah, arah kehidupan pun bisa ikut berubah.

Di titik inilah Firman menegaskan bahwa masa depan finansial seseorang tidak sepenuhnya ditentukan oleh usia.

Sebaliknya, masa depan tersebut lebih ditentukan oleh apakah seseorang masih memiliki kemauan untuk memperbaiki cara berpikirnya, membuka diri terhadap pengetahuan baru, dan berani mengambil langkah baru dalam hidupnya.

“Selama seseorang masih mau berpikir dan mau belajar, kesempatan itu selalu ada,” tegas Firman.

Pesan tersebut menjadi pengingat penting bahwa usia bukanlah akhir dari peluang, melainkan hanya fase kehidupan yang menuntut cara berpikir yang lebih bijak, lebih terbuka, dan lebih berani menghadapi perubahan.

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *